Jumat, 01 Juni 2012

KAJIAN SOSIO-HISTORIS TERHADAP MASYARAKAT ARAB KLASIK

KAJIAN SOSIO-HISTORIS
TERHADAP MASYARAKAT ARAB KLASIK



 
 



OLEH:


DUDIYONO
NIM. 388.9.1.12





MAKALAH


Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Sains Al Qur’an
Jawa Tengah di Wonosobo Program Studi Magister Pendidikan Islam
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur
pada Mata Kuliah Studi Peradaban Islam (Klasik-Kontemporer)




 
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
TAHUN 2012








KAJIAN SOSIO-HISTORIS
TERHADAP MASYARAKAT ARAB KLASIK[1]

I.         PENDAHULUAN
Kondisi masyarakat Arab pra Islam seringkali disebut masyarakat Arab Jahiliyah memlikiki karakter masyarakat yang terbuka dan heterogen-pluralistik. Dimana kota Mekkah ketika itu merupakan kota yang multifungsi; sebagai kota bisnis, budaya[2], disamping itu Makkah juga sebagai pusat transaksi keuangan baik untuk internal suku-suku di sekitar Makkah maupun Negara luar secara transparan.[3] Kondisi yang demikian tercatat dalam catatatn sejarah Arab kuno maupun di al Qur’an, sebagaimana di informasikan pada al Qur’an Surat Quraisy, 106 : 1-2 berikut :
   لإيلاف قريش(1)
إيلافهم رحلة الشتاء والصيف(2)
                                                                                                                     
1.  Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
      2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas[1602].

[1602] orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya. Ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Tuhan mereka. oleh Karena itu sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang Telah memberikan nikmat itu kepada mereka.

Masyarakat Arab pra Islam terbagi menjadi beberapa lembaga suku, yang setiap lembaga suku dikepalai oleh seorang kepala suku dengan sebutan Syaikh al Qabilah atau Sayyid.[4] Dengan adanya system kesukuan ini kemudian muncul dua deriviasi struktur social; yaitu stratifikasi social yang memiliki derajat suku yang tinggi terdiri dari kaum bangsawan ataupun saudagar kaya, dan system perbudakan atau hamba sahaya yang memiliki derajat suku yang rendah dan terpinggirkan.
Berdasarkan sedikit uraian di atas, permasalahan yang diangkat dari review yang penulis lakukan adalah bagaimana kondisi kehidupan masyarakat Arab pra Islam (Jahiliyah) terkait dengan system kesukuan yang ada?. Kemudian permasalahan selanjutnya adalah adakah sistem kesukuan Arab pra Islam memiliki korelasi terkait dengan kondisi social-ekonomi dan social-budaya di dalam masyarakat secara menyeluruh?.
  

II.      PEMBAHASAN
A.       Gambaran Masyarakat Arab Pra Islam (Jahiliyah)
Masyarakat Arab pra Islam secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yaitu; kelompok Arab al-Baidah dan kelompok Arab al-Baqiyah.[5] Arab al-Baidah merupakan komunitas masyarakat Arab yang mengalami kepunahan, fenomena sejarahnya dapat diketahui melalui informasi yang tidak lengkap dari prasasti, kitab suci dan termasuk al-Qur’an. Sedangkan Arab al-Baqiyah merupakan komunitas Arab yang tetap eksis dan terpelihara sejarahnya di bangsa Arab. Dalam dinamika selanjutnya kelompok Arab al-Baqiyah terpecah menjadi dua klan/bagian yaitu klan Qohton bertempat di wilayah Arab Selatan (daerah Yaman) dan Klan Adnan yang menempati daerah Arab bagian utara (daerah Hijaz) yang kemudian dikenal dengan sebutan klan Arab al-Muta’arrobah atau al-Musta’rabah.[6]
Klan Qohton pada awalnya merupakan kelompok yang maju karena sudah memiliki peradaban yang tinggi, namun kemudian mengalami badai krisis ekonomi dan politik yang mengakibatkan imigrasi besar-besaran ke Arab bagian Utara yaitu Klan Adnan. Fenomena imigrasi yang dilakukan klan Qohton ke klan Adnan ini yang mengakibatkan kebangkitan dan perkembangan peradaban di Arab Utara.
Arab Utara mengalami kemajuan disebabkan oleh dua factor, yaitu factor  eksternal yaitu migrasi yang dilakukan oleh Arab Selatan. Kedua, kota Makkah berfungsi secara maksimal, sebagai pusat kota, pusat religious, ekonomi, politik dan budaya.[7]

B.       Batasan Masa dan Letak Geografis
Masyarakat Arab Jahiliyah hidup di jazirah Arab sekitar 150 tahun sebelum kedatangan Islam atau sekitar pertengahan abad ke 4-5 M. masyarakat Jahiliyah terbagi menjadi dua kelas masa, yaitu al-Jahiliyah al-Ula yang berarti komunitas masyarakat Arab Jahiliyah fase pertama dan al Jahiliyah al-Tsaniyah yang berarti masyarakat Arab jahiliyah pada fase kedua. Di dalam review ini masyarakat Arab Jahiliyah yang dibahas adalah masyarakat Arab Jahiliyah pada fase kedua.[8]
Dari sisi geografis Jazirah Arab termasuk kawasan Asia Barat, di ujung Barat Daya Asia. Sebelah utara berbatasan dengan Syiria, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, sebelah timur berbatasan dengan Teluk Persia dan Laut Oman sedangkan di bagian barat berbatasan dengan Laut Merah.[9] Wilayah jazirah Arab merupakan wilayah yang tandus, gersang dan ganas.

C.       Masyarakat Arab Hadhor (berperadaban) dan Masyarakat Arab Badwi (primitif)
Ada dua tipologi masyarakat Arab Selatan (Qohton)  maupun Utara (Adnan), yaitu masyarakat pra Islam berperadaban (al Arab al-Mutahadirah) dan yang belum berperadaban (al Arab al-Badwah). Kelompok pertama merupakan kelompok yang maden (menetap), berkomunikasi dengan masyarakat non Arab, masyarakat kota makkah dan secara ekonomi berdagang, dilakukan oleh kabilah Quraisy. Untuk kelompok kedua merupakan kelompok yang hidupnya nomaden (berpindah-pindah tempat), berada di daerah pedalaman, terisolir dan berprofesi sebagai peternak, dilakukan oleh Arab Badui.[10]

D.       Sistem Kesukuan Masyarakat Arab Pra Islam
Masyarakat Arab Pra Islam, baik yang sudah berperadaban (hadhar) maupun masyarakat Arab Badui mereka sama-sama memiliki kekuatan kesukuan, kesukuan merupakan symbol identitas kelompoknya yang terbangun dari kesamaan dinasti, wilayah dan status social, dan kesukuan telah berlangsung secara turun temurun semenjak zaman Nabi Nuh as. Dalam suku diatur menjadi beberapa tingkatan mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar yaitu; al-butun (keluarga kecil), meningkat di atasnya adalah al-Asyirah (keluarga) dan tingkatan yang paling besar Qobilah (suku).[11]
Dalam persoalan social dengan pihak-pihak eksternal sistem kesukuan bersifat inklusif hal ini Nampak ketika mereka melakukan hubungan bisnis dengan pihak di luar suku. Akan tetapi terkait hubungannya dengan antar suku lebih eksklusif, ataupun ketika terjalin hubungan yang inklusif seringkali ditandai dengan peristiwa yang konfrontatif, begitu banyak perselisihan dan permusuhan.[12]

E.        Beberapa Fenomena Kehidupan Masyarakat Arab pra Islam (Jahiliyah)
1.      Agama dan sistem Kepercayaan Masyarakat Arab pra Islam (Jahiliyah)
Kondisi keagamaan dan kepercayaan masuarakat Arab Jahiliyah sangat heterogen dan plural, diantara agama dan kepercayaan yang mereka anut adalah sistem kepercayaan paganisme, agama Nasrani Yahudi, dan Majusi. Disamping itu ada juga komunitas kecil yang tidak menganut agama dan kepercayaan tersebut sehingga mereka mendambakan adanya ajaran agama yang baru (kelompok hanafiyah).[13]
2.      Kehidupan Sosial Politik dan Masalah Ashobiyah
Dalam kehidupan social politik ada dua hal yang terbilang urgen, pertama; adanya sistem tribalisme (kesukuan) merupakan sistem social politik yang primordial, eksklusif dan faternalistik, dibangun dengan dasar kesamaan darah. Kedua; adalah masalah ashobiyah yaitu solidaritas dan fanatisme kesukuan.
3.      Sistem Kesukuan dan Ashobiyah dalam Karya Puisi
Ketika terjadi konflik antar suku seringkali dilakukan retorika dan media puisi bertemakan Ashobiyah untuk memuji sukunya dan menjelekkan suku yang lain. Puisi juga memiliki makna yang kutural, karena ternyata dengan puisi itu sangat disenangi dan menjadi idola bagi setiap suku yang ada di jazirah Arab ketika itu.
4.      Kehidupan Ekonomi dan Masalah Kesenjangan Sosial
Masarakat Arab Jahiliyah dalam melakukan kegiatan ekonomi pada dasarnya adalah dengan melakukan empat sumber mata pencaharian pook seperti; perdaganngan, pertanian, industry dan peternakan. Aktifitas perdagangan lebih banyak dilakukan oleh suku Quraisy, pertanian dilakukan oleh suku Yahudi yang ada di wilayah Madinah, industry dan perdagangan digeluti oleh komunitas Yahudi. Untuk kegiatan beternak merupakan sumber ekonomi yang secara mayoritas dilakukan oleh suku Arab Badui (primitif).
Sementara ada komunitas Arab Jahiliyah yang sangat memprihatinkan, yaitu komunitas sho’alik (komunitas yang terpinggirkan), kelompok ini tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang jelas sehingga mereka hidup dalam garis kemiskinan dan penderitaan yang hidup di pedalaman dan termasuk suku yang paling rendah. Dengan demikian komunitas sho’alik memberikan fenomena yang menjadikan adanya kesenjangan social antara suku-suku elite dari kelompok borjuis pedagang seperti suku Quraisy dengan suku-suku badui yang termarginalkan dari kelas Khula’a (komunitas yang terusir dari institusi kesukuan).[14]

III.   KESIMPULAN
Masyarakat Arab pra Islam merupakan masyarakat suku yang heterogen dan plural. Kesukuan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan social secara keseluruhan.
Adanya konsep ashobiyah (solidaritas dan fanatisme kesukuan) merupakan falsafah kehidupan bagi setiap suku dalam rangka mempertahankan eksistensi dan citra intern yang dimiliki oleh setiap suku.
Dalam pola kehidupan ekonomi, kesukuan ternyata dapat memfragmentasikan pola kesenjangan social yang tajam antara kelompok struktur ekonomi elite dari kalangan borjuis (suku pedagang yang bermodal) dengan kelompok social suku marginal dari kelompok sho’alik (suku rendahan  yang telah terisolir dari kelompok sukunya. Adanya kesenjangan social yang begitu tajam mengakibatkan ketidakadilan social yang pada akhirnya dapat menjadi pemicu awal  terjadinya anarkhisme social yang dilakukan oleh kelompok sho’alik.
              


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hatta, DR.,MA. Tafsir Qur’an Per Kata Dilengkapi Azbabun Nuzul dan Terjemah. Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009.

Ahmad Amin, Fajrul Islam (terjemah Zaeni Dahlan), (Jakarta: Bulan Bintang), 1968.

Husain Athwan, Muqaddimah al-Qashidah al-Aroriyah fi al-Syi’ri al-Jahili, (Mesir: Dar al-Ma’arif), t.t.

Fazlur Rahman, Tema Pokok al Qur’an, (penerjemah) Anas Mahyuddin, (Bandung: Pustaka), 1996.

Jurzi Zaidan, Tarikh Adab al-Lughah al-Arobiyyah, (al-Qohiroh: Dar al-Hilal), t.t.

M. Siba’i Bayyumi, Tarikh al-Adab al-Arbori fi al-Astiri al Jahili, (Mesir : Maktabah al-Nahdlah), 1948.

Montgomeri Watt, Muhammad at Macca, (Karachi: Oxford University Press), 1982.

Muhammad Sarhan, Fiqh Lughah, (Riyadh: al-Idarah al- Imamah), t.t.

Syauqi Dhoif, Tarikh al-Adab al-Arabi fi al-Ashri al-Jahili, (Mesir: Dar al-Ma’arif), t.t.

Yusuf Kholif, al Syu’aro al Sho’alik fi al Ashri al Jahili, (Mesir: Dar al Ma’arif), t.t.


[1] Makalah, disusun dan diajukan memenuhi tugas mata kuliah Studi Peradaban Islam (Klasik-Kontemporer) Universitas Sains al Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo, oleh Dudiyono.
[2] Syauqi Dhoif, Tarikh al-Adab al-Arabi fi al-Ashri al-Jahili, (Mesir: Dar al-Ma’arif), t.t, hlm. 38.
[3] Montgomeri Watt, Muhammad at Macca, (Karachi: Oxford University Press), 1982, hlm. 2-3.
[4] Husain Athwan, Muqaddimah al-Qashidah al-Aroriyah fi al-Syi’ri al-Jahili, (Mesir: Dar al-Ma’arif), t.t., hlm. 23.
[5] M. Siba’i Bayyumi, Tarikh al-Adab al-Arbori fi al-Astiri al Jahili, (Mesir : Maktabah al-Nahdlah), 1948, hlm. 14.
[6] Ibid., hlm. 22-25
[7] Muhammad Sarhan, Fiqh Lughah, (Riyadh: al-Idarah al- Imamah), t.t., hlm. 36-36
[8] Jurzi Zaidan, Tarikh Adab al-Lughah al-Arobiyyah, (al-Qohiroh: Dar al-Hilal), t.t., hlm. 7-10.
[9] Ahmad Amin, Fajrul Islam (terjemah Zaeni Dahlan), (Jakarta: Bulan Bintang), 1968, hlm. 15.
[10]Husain Athwan, Muqaddimah al-Qashidah al-Aroriyah fi al-Syi’ri al-Jahili, (Mesir: Dar al-Ma’arif), t.t., hlm.45.

[11] Ibid., hlm. 23.
[12] Ibid., hlm. 92.
[13] Fazlur Rahman, Tema Pokok al Qur’an, (penerjemah) Anas Mahyuddin, (Bandung: Pustaka), 1996, hlm. 198.
[14] Yusuf Kholif, al Syu’aro al Sho’alik fi al Ashri al Jahili, (Mesir: Dar al Ma’arif), t.t., hlm. 135-145.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar